Selasa, 27 April 2021

Jenis Jenis Spoofing dan Cara mencegahnya

 

Spoofing

Spoofing adalah salah satu bentuk penipuan online yang dilakukan dengan cara menyamar sebagai seseorang / pihak tertentu. Biasanya, penipu akan berkedok sebagai individu atau organisasi yang memang sudah Anda kenal.

Dengan begitu, mudah saja untuk mereka mendapatkan kepercayaan Anda. Hasilnya, mereka akan gampang melakukan tindakan seperti mencuri data, mencuri uang, atau merusak sistem keamanan perangkat / server Anda.

Modus kejahatannya pun bisa berbagai macam. Ada yang menggunakan malware atau melakukan serangan DDoS. Semua tergantung dari jenis spoofing itu sendiri. Berikut adalah jenis-jenisnya:

Email Spoofing

Email spoofing merupakan aksi penipuan dengan mengirimkan pesan email yang memakai alamat palsu atau bermodus sebagai pihak tertentu. Cara ini pun sama seperti yang dilakukan pada phishing.

Tujuannya adalah untuk meminta target melakukan apa yang diperintahkan pelaku. Misalnya, mengklik link yang berisikan malware agar pelaku bisa mudah melakukan pencurian data, merusak sistem server dengan malware, hingga kasus yang terparah seperti meminta jaminan uang.

Website atau URL Spoofing

Jenis spoofing kedua adalah website atau URL spoofing. Sesuai namanya, kejahatan cyber crime satu ini mengandalkan website sebagai trik untuk mengelabui korban. Caranya adalah pelaku membuat website palsu dan menjiplak keseluruhan tampilan website yang ditiru. Mulai dari nama, logo, halaman login, bahkan nama domain yang sekilas terlihat persis dengan yang asli.

Lalu, biasanya pelaku melakukan aksinya bersamaan dengan email spoofing. Ia akan mengirimkan pesan berisikan link yang nantinya akan mengarahkan Anda ke website mereka.

Caller ID Spoofing

Caller ID spoofing merupakan tindakan yang memungkinkan seseorang untuk mengganti nomor ID telepon saat melakukan panggilan keluar. Nomor ID tersebut bisa diubah sesuka hati sesuai keinginan pelaku.

Hal ini dilakukan para pelaku spoofing agar Anda tidak bisa melacak nomor mereka. Dengan begitu, pelaku bisa mudah melakukan penipuan dengan menyamar sebagai pihak tertentu. Apalagi cara kerja spoofing ini mudah dilakukan semenjak banyaknya jasa yang menawarkan layanan penggantian nomor ID di internet.

Skenario pelaku spoofing caller ID pun bisa beragam. Ada yang berkedok sebagai pegawai bank yang ingin menagih hutang. Ada yang menyamar sebagai brand ternama untuk memberikan door prize. Hingga terparahnya, ada pula pelaku yang tidak cuma menyerang individu, tapi juga perusahaan besar.

SMS Spoofing

Sama dengan Caller ID spoofing, SMS spoofing membuat pelaku mengubah nomor seluler mereka dengan nomor lain. Ini dilakukan seperti layaknya berbagai perusahaan yang sering memalsukan nomor mereka sendiri untuk keperluan pemasaran. Agar mudah dikenal oleh konsumen dengan digit angka yang lebih singkat.

Dengan begitu, para pelaku spoofing bisa menyamarkan identitas mereka dan membawa nama perusahaan atau organisasi resmi. Kemudian mereka akan melaksanakan aksinya dengan mengirimkan pesan penipuan atau pun membagikan link yang berisikan malware. 

Man-in-The-Middle (MitM)

Man in The Middle (MitM) merupakan serangan cyber yang terjadi saat pelaku menjadi pihak ketiga yang secara diam-diam mencegat proses komunikasi antara dua pihak berbeda. MitM ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk komunikasi baik telepon, online, email, media sosial, website dan lain-lain.

Pelaku MitM tidak hanya digunakan untuk mendengar percakapan pribadi Anda. Tapi juga untuk memantau segala informasi atau data pada perangkat yang Anda gunakan.

IP Spoofing

IP spoofing merupakan jenis spoofing yang memungkinkan pelaku untuk mengubah source IP sehingga tidak dapat terlacak saat ingin mengelabui komputer tujuan. Ini juga menjadi salah satu teknik yang sering digunakan oleh pelaku saat melakukan serangan DDoS.

DDoS itu sendiri berasal dari singkatan Distributed Denial of Service. Ia merupakan jenis serangan yang dilakukan dengan cara membanjiri lalu lintas jaringan internet pada server atau sistem. Caranya, menggunakan beberapa komputer host yang kemudian membuat komputer / server milik korban down atau tidak bisa diakses.

 

Cara Mencegah Spoofing

     Berikut ini adalah cara cara yang saya rangkum dalam mencegah Spoofing

Email Spoofing:

Periksa atau cek alamat email pengirim. Seperti yang telah disebutkan, pelaku biasanya akan mendaftarkan domain palsu yang terlihat sangat mirip dengan yang sah.

Berhati-hatilah dengan isi link yang tidak biasa. Sebelum mengklik, sebaiknya arahkan kursor Anda ke alamat tersebut. Dan lihat apakah URL yang dituliskan terlihat asing atau tidak. 

Periksa apakah ada tulisan yang typo atau tata bahasa yang buruk.

Waspada pada file yang dilampirkan, apalagi jika pengirimnya tidak Anda kenali.

Website atau URL Spoofing

Hindari website yang tidak memiliki simbol kunci atau green bar. Website yang mempunyai sertifikasi keamanan SSL biasanya ditandai dengan adanya green bar atau simbol kunci. Ini mengindikasikan kalau proses transfer data dalam website tersebut sudah lebih aman dan terenkripsi. Selain itu, website yang telah menggunakan SSL juga ditandai dengan perubahan URL

Gunakan password manager. Pengelola kata sandi seperti 1Password akan mengisi ulang kredensial login Anda secara otomatis untuk website apa pun. Namun, jika Anda menavigasi ke situs website palsu, otomatis pengelola kata sandi tidak akan bisa mengisi kolom username pengguna dan password Anda. 

Caller ID Spoofing

Jika Anda menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal, sebaiknya jangan diangkat. Jika penelepon terus melakukan panggilan, blokirlah nomor tersebut.

Ketika Anda baru saja melakukan sign up pada aplikasi atau layanan apapun melalui mobile phone, biasakan untuk membaca setiap kebijakan privasi. Pastikan kalau pihak layanan tidak akan memberikan atau menjual informasi kontak Anda.

Tetap update pada setiap perkembangan baru soal penipuan dan kasus cyber crime lainnya. Supaya Anda bisa tahu apa yang harus dilakukan agar tetap waspada. Akan lebih baik lagi jika Anda juga menginstal sistem keamanan di ponsel untuk melindungi dari malware atau ancaman lainnya.

SMS Spoofing

Abaikan pesan singkat yang berisikan link tak dikenal. Apalagi jika Anda merasa kalau isi pesan tersebut tidak masuk akal. Misalnya Anda tiba-tiba mendapatkan doorprize dari suatu bank yang padahal Anda tidak pernah mengikuti program doorprize tersebut.

Waspadalah terhadap pesan yang meminta Anda untuk melakukan penggantian kata sandi.

Bank atau perusahaan ternama sangat tidak mungkin untuk menanyakan detail pribadi Anda melalui SMS. Jadi, jangan berikan kepada pihak siapapun yang meminta Anda untuk memberikan detail informasi pribadi melalui SMS.

Hubungi perusahaan, bank atau penyedia layanan Anda jika menerima pesan teks palsu.

Man-in-The-Middle (MitM)

Hindari pemakaian jaringan Wifi publik yang tidak dilindungi dengan kata sandi. Namun, kalau Anda benar-benar membutuhkannya, batasi penggunaan internet untuk menjelajah, membaca, dan aktivitas lain yang tidak akan melibatkan Anda memasukkan kredensial Anda.

Biasakan untuk melakukan log out setelah Anda selesai membuka sebuah aplikasi atau website. Sebab, biasanya penyerang melakukan aksinya di saat pengguna sudah mematikan perangkat tapi tidak melog-out aplikasi atau layanan secara tepat.

Kunjungi website yang memiliki sertifikasi SSL, yaitu ditandai dengan adanya tombol kunci hijau pada kolom URL dan protokol HTTPS. Ada baiknya lagi kalau Anda juga memasang ekstensi keamanan seperti HTTPS Everywhere untuk mengotomatiskan browser dalam menampilkan situs-situs yang aman dikunjungi.

Jika memungkinkan, instal dan gunakan jaringan pribadi virtual (VPN) saat hendak melakukan transaksi atau komunikasi yang bersifat sensitif.

Pastikan bahwa router rumah Anda telah dikonfigurasi dengan aman juga. Caranya adalah dengan mengubah nama pengguna dan menggunakan kata sandi yang unik dan kuat.

IP Spoofing

Gunakan pemblokir serangan jaringan, seperti Kaspersky.

Terapkan metode verifikasi yang kuat ke segala pengaksesan. Termasuk sistem intranet perusahaan Anda untuk mencegah penerimaan file berbahaya yang akan mengancam keamanan data sistem.

Lakukan pemantauan pada aktivitas jaringan yang tidak lazim.